Mungkin ketika kita di sekolah selalu ingat dengan kalimat ini. "Kita absen dulu ya, anak-anak!" atau "Kita absensi dulu ya, anak-anak!"
Mungkin ketika kita di sekolah selalu ingat dengan kalimat ini. "Kita absen dulu ya, anak-anak!" atau "Kita absensi dulu ya, anak-anak!"
Kata “Penilaian” merupakan salah satu kunci terjadinya proses pembelajaran yang baik dan benar. Mengapa? Karena Penilaian ini akan menentukan langkah-langkah proses pembelajaran, seperti: menentukan kompetensi yang harus dicapai, menentukan hasil belajar siswa, kegiatan pembelajaran, menentukan interaksi antar siswa dan antar siswa dengan guru, menentukan instrumen penilaian, dan menentukan tindak lanjut.
Kata “evaluation” diterjemahkan menjadi “evaluasi” yang juga dimaknai “penilaian”. Sedangkan setiap kali kita menyebutkan kata penilaian maka mindset kita langsung terbesit pada kata “paper and pencil test” atau test. Dan sayangnya kata “test” sering digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang menghafal informasi atau yang oleh orang awam disebut pengetahuan.
Akibatnya, ketika kita merancang “teacher competency assessment” misalnya atau penilaian kompetensi guru, maka yang muncul adalah instrumen penilaian kompetensi berupa test. Padahal penilaian kompetensi seyogyanya diukur dengan kinerja yang dihasilkan guru.
Dengan demikian telah terjadi penyederhanaan makna dari ketiga kata tersebut dan sayangnya ketiganya cenderung diterjemahkan menjadi kata “penilaian” yang berujung pada “paper & pencil test”. Hal ini dapat berakibat fatal dan menimbulkan miskonsepsi yang luar biasa, dan menyebabkan orientasi proses pembelajaran lebih menekankan pada penyampaian materi pelajaran yang bersifat kognitif dan parahnya lagi hanya bersifat “recall” atau “remembering” saja, jauh dari asesmen kompetensi. Hal ini sudah menjadi problematik sejak lama.
Dengan demikian, EBTANAS, Ujian Nasional, UNBK, dan Asesmen “Kompetensi” Minimal (AKM) masih bisa dilaksanakan untuk pemetaan kualitas penguasaan pengetahuan siswa sebagai bagian dari hasil belajar, tapi tidak bisa dikatakan asesmen kompetensi karena asesmen seperti ini tidak mengukur hasil belajar secara utuh. Pernyataan seperti ini sudah menjadi diskursus sejak lama, namun sampai sekarang masih belum ada titik temu.
Silabus adalah salah satu komponen perangkat pembelajaran dari rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.
Berikut ini silabus untuk kelas 7 MTs : (Tinggal Klik wes) untuk kelas 8 (disini aja kliknya)
Pengertian Kisi-kisi Soal, Pedoman, dan Langkah Penyusunannya
Gurubagi.com. Tugas seorang guru pastinya tidak akan lepas dari melakukan evaluasi belajar menggunakan perangkat soal berdasarkan kisi-kisinya.
Penyusunan kisi-kisi soal menjadi langkah penting yang harus dilakukan guru sebelum melakukan penulisan soal.
Kisi-kisi soal adalah suatu format berbentuk matriks berisi informasi yang memuat pedoman untuk menulis atau merakit soal. Sebaiknya kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penggunaan tes.
Kisi-kisi menjadi pedoman pembuatan soal yang memuat secara lengkap kriteria dari soal yang akan diusun dalam sebuah tes. selain itu kisi-kisi soal juga disusun sesuai silabus mata pelajaran.
Pedoman pembuatan Kisi-kisi Soal
Di dalam menyusun kisi-kisi soal, guru tidak bisa asal saja membuat, akan tetapi harus memenuhi standar pedoman penulisan soal yang baik dan benar,
Terdapat beberapa pedoman dalam pembuatan kisi-kisi, sebagai berikut.
Kisi-kisi tes prestasi akademik harus memenuhi persyaratan berikut.
Komponen-komponen yang dalam sebuah kisi-kisi harus sesuai dengan tujuan pelaksanaan tes. Komponen kisi-kisi terdiri atas komponen identitas dan komponen matriks. Identitas diletakkan di atas matriks.
1. Jenis/jenjang sekolah
2. Program studi/jurusan
3. Mata pelajaran
4. Tahun ajaran
5. Kurikulum yang berlaku
6. Alokasi waktu
7. Jumlah soal
8. Bentuk soal.
1. Kompetensi dasar
3. Materi
4. Indikator
5. Level kognitif
6. Nomor soal.
Berikut ini adalah diagram yang menggambarkan proses penjabaran kompetensi dasar (KD) menjadi indikator.

Di dalam menyusun kisi-kisi soal, ketiga hal tersebut (Kompetensi Dasar, materi, dan Indikator) saling terkait dan berkesinambungan.
Kompetensi Dasar (KD) merupakan rumusan yang sudah ada dalam kurikullum, KD memuat kemampuan minimal yang menyatakan penguasaan materi peserta didik setelah mempelajari materi pelajaran tertentu.
Berdasarkan kompetensi dasar, guru melakukan pemetaan materi pelajaran kepada peserta didik sehingga bisa mencapai kemampuan minimal.
Peserta didik menguasai materi ajar yang lahir dari pengembangan kompetensi dasar. Guru memerlukan banyak sumber dan referensi sebagai dasar melakukan pendalaman dengan tujuan untuk memperkaya materi, tentu penentuan materi dan disesuaikan dengan indikator yang akan disusun.
Guru juga harus megetahui penguasaan materi peserta didik, yang memiliki hubungan dengan bidang studi lainnya dan kelanjutan dari materi jenjang sebelumnya dan jenjang sesudahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator adalah suatu rumusan yang menggunakan kata kerja operasional biasanya mengacu pada Taksonomi Bloom yang memuat perilaku peserta didik dan yang dapat terukur sesuai dengan uraian materi.
Adapun syarat indikator yang baik antara lain.
1. Memuat ciri-ciri kompetensi dasar yang terukur.
2. Memuat kata kerja operasional yang terukur.
3. Memilih materi berkaitan dengan bahan ajar.
4. Dapat membuat soalnya.
Soal/Pertanyaan
Soal lahir dari indikator, jika tidak sesuai dengan indikator maka soal tersebut dapat menunjukan kecacatan soal karena tidak mewakili materi, akibatnya tidak akan mencapai standar minimal dari kompetensi dasar.
Pertanyaan yang baik harus memenuhi unsur berikut.
1. Membuat pertanyaan berdasarkan indikator.
2. Pilihan jawaban harus homogen dan logis.
3. Setiap pertanyaan harus mempunyai satu jawaban yang benar.
4. Merumuskan pokok soal secara jelas dan tegas.
5. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan secukupnya saja.
Ranah Pengetahuan Pada Kemampuan Berpikir (Level Kognitif)
Level/Tingkat 1 (Knowing)
Level 1 terdiri dari level kognitif Taksonomi Bloom yang menjadi gambaran penguasaan kemampuan peserta didik diantaranya sebagai berikut.
Kata kerja operasional dalam indikator soal untuk C1 antaralain, mengingat kembali, membaca, menyebutkan, menyusun daftar, menggaris bawahi, menjodohkan, memilih, menyatakan, serta mendefinisikan.
Level ini merupakan tingkat yang lebih dari sekedar mengetahui. Kata kerja operasional yang digunakan untuk menggambarkan level kognitif pemahaman di antaranya, memperkirakan, mengkategorikan, menjelaskan, membedakan, menyimpulkan, mengklasifikasikan, menerangkan, menggambarkan, dan menginterpretasikan.
Daya serap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) – Belakangan ini penggunaaan kata-kata dalam ucapan dan keterangan makin luas dan banyak menggunakan kata-kata yang jarang digunakan. Sehingga membuat kita kadang tidak tau maksud dari kata-kata tersebut. Seperti penggunaan kata daya serap.
Penggunaan kata-kata tersebut bisa saja Anda lihat di dunia nyata maupun di dunia maya seperti di sosial media Instagram, Facebook, Twitter atau di aplikasi berbasis chat seperti Line, BBM, WhatsApp dan lain sebagainya.
Namun apakah kamu mengetahui definisi kata daya serap yang sebenarnya supaya kamu paham dalam membaca kalimat yang mengandung kata tersebut. Berikut ini adalah penjelasan dan arti kata daya serap berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online adalah:
Arti kata daya serap dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kemampuan menyerap (mengisap) benda cair; (2) kemampuan suatu kegiatan menyerap dana (anggaran)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ
اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ
الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa yang membaca satu
huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan
dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan الــم ialah satu huruf, akan tetapi ا satu huruf, ل
satu huruf dan م satu huruf.” (HR.
Bukhari)
Tidak mengapa membaca Alquran
walaupun masih terbata-bata. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang yang lancar membaca al-Qur’an akan bersama para Malaikat yang mulia
dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca al-Qur’an dan
terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua
pahala.” (HR. Muslim).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi mempunyai dampak positif terhadap berbagai bidang kehidupan, tak
terkecuali untuk pembelajaran Al-Qur’an. Dengan sarana digitalisasi di bidang
pendidikan akan sangat membantu para kalangan pengajar untuk menyampaikan
pengajaran kepada para santrinya. Dengan adanya tampilan grafis dan audio, digital
menjadi salah satu media pembelajaran yang menarik dan mempermudah bagi santri
untuk belajar Al-Qur’an.